Berjuanglah Demi Cinta Sejatimu
Cinta yang selama ini kujadikan sebagai bahan semangatku dalam menjalani setiap langkah yang kutempuh, cinta yang selama ini mampu melengkapi segala kekuranganku, cinta yang selama ini menjadikan aku sempurna, cinta yang selama ini menuntunku, merangkulku, dan mengarahkanku kearah dan tujuan yang sebenarnya. Disaat kutemukan cinta yang seperi ini, disaat itulah ku artikan inilah cinta sejatiku. Tak sedikitpun terniat dihati ini untuk mencari cinta yang lain, tak terniat dihati ini untuk mengalih pandangan darinya, dan hatiku pun berkata inilah cinta yang ku mau. Ku genggam, ku peluk cintamu, aman, nyaman, tentram, damai, itulah yang kurasakan seakan tak ingin lepas dan kurasakan inilah rumahku, inilah surgaku. Bertahun-tahun sudah kurasakan cinta yang semakin hari semakin tak terhitung besarnya, seakan separuh jiwaku telah kau renggut.
Tapi... perjalanan itu tak selalu indah, tak selalu mulus. Diibaratkan berada didalam kereta kencana yang indah tetapi melewati jalan berlubang, jalan berduri, dan jalan yang penuh rintangan. Cobaan demi cobaan, ujian demi ujian yang harus ku lalui. Rapuh... itulah perasaanku saat menghadapi cobaan dan ujian yang datang tetapi tak sedikitpun membuatku menyerah karena ada kamu disampingku, kau tegakkan aku dengan tongkat cintamu. Hari demi hari masih sama, masih dengan kondisi yang sama, dengan ujian yang sama. Dan pada akhirnya kutemukan perubahan mendalam didiri ini, sabar, tegar, lembut, itulah hasil ujian yang kulalui. Dan ku ambil hikmahnya, aku yang dulunya seorang wanita egois, keras kepala, dan tegas kini berbalik 180 derajat dan itu semua karena cintamu, karena ketulusan dan kesungguhan ku yang mencintaimu karena Allah.
Pada akhirnya ku anggap kita telah sampai dipuncak perjuangan, dimana kita memulai merencanakan untuk mengakhiri kisah cinta ini di pelaminan. Banyak hal terbaik yang kita rencanakan untuk masa depan aku, kamu dan buah hati. Tak terbayangkan betapa besarnya rasa bahagia ini ketika ku anggap telah berhasil melewati ujian, cobaan, perjuangan, usaha, dan tibalah pada tujuan sebenarnya.
Tapi... pada kenyataannya terbalik dengan yang kubayangkan, lagi-lagi cobaan mendatangi. Sakit, kecewa, perih, hancur, tak ada artinya hidup ini. Seakan dunia berhenti berputar, seakan kaki tak dapat lagi menginjak bumi, seakan badan ini melayang, sepi, hampa, dan dunia menjadi gelap.... itulah yang terasa dihati ini ketika kusadari sesuatu yang menjadi
mimpi untuk diwujudkan selama ini tidaklah mampu menjadi nyata. Terasa
nyata tetapi hanyalah asa...
Sakit... ketika segala perjuangan dan usaha yang selama ini aku bina dipandang sebelah mata. Apalah arti sebuah mimpi untuk membina rumah tangga jika tanpa izin kedua orang tua. Seakan tak ternilai, seakan sampah yang terbuang ketika orang tuamu menganggap aku bukan yang terbaik untukmu dan tak mampu memberimu apa-apa. Seakan aku hanyalah secuil debu tak bermanfaat lekat di tubuhmu yang dapat dihapuskan oleh air yang jelas tinggi derajatnya dan mampu mensucikan kamu agar terlihat bersih dan dipandang oleh semua orang.
Wahai... Ibu, bapak yang ku impikan menjadi mertua yang akan kucintai sepenuh hati. Mungkin memang tak bisa kujanjikan anakmu harta yang berlimpah seperti yang mereka mampu berikan untuk anakmu. Tidakkah kalian sadari, yang dibutuhkan anakmu adalah kebahagiaan lahir dan bathin, dunia dan akhirat, istri yang mampu patuh terhadapnya, istri yang selalu sedia melantunkan bait do'a terbaiknya untuk anakmu, istri sholeha lah yang mampu menghantarkan anakmu ke surga allah, bukan mereka yang menjanjikan harta dan tahta. Andaikan kalian tau isi hati dan pikiran ku ini hanyalah ingin mengganti luka dan sakit yang pernah anakmu rasakan selama ini menjadi sebuah kebahagiaan, kenyamanan, dan ketenangan.
Bedo'a, tawakal, sabar, ikhlas dan pasrah itulah yang mampu ku lakukan saat ini. Belajar untuk tidak memaksakan kehendak, belajar untuk terus berharap, belajar untuk terus yakin dan percaya akan datang hari dimana aku akan merasakan kebahagiaan yang nyataa. Yakin, percaya semua skenario didunia ini Allah yang menyusunnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar